Salah satu yang membuat manusia takut kepada kematian adalah karena manusia menganggap bahwa kematian merupakan akhir dari segalanya. Kematian akan memutus nikmat yang Allah Swt. berikan di dunia.
Paradigma yang benar adalah kematian merupakan pintu gerbang menuju alam akhirat. Sesungguhnya kematian sama dengan proses kelahiran, yaitu perpindahan dari alam rahim ke alam dunia. Bayi menangis adalah bukti bahwa bayi merasa segan memasuki alam dunia, ketika di alam rahim semua sudah dicukupi oleh Allah Swt. melalui tali ari-ari ibu.
Demikian juga ketakutan manusia, ketika mati nanti kehidupan alam akhirat akan sengsara, tidak ada lagi kenikmatan. Padahal bagi manusia yang meyakini kehidupan alam akhirat dan sungguh-sungguh berbekal maka prosesi kematian adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Kematian adalah gerbang untuk mendapat kenikmatan seperti firman Allah Swt. dalam Q.S. al Imran: 169
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
(Q.S. al Imran{3]: 169).
Gugur di jalan Allah Swt. bukan saja dengan cara berperang, tetapi gugur di jalan Allah berarti manusia yang saat kematiannya sedang beriman kepada Allah Swt,.,sedang bersungguh-sungguh beramal saleh, maka janji Allah sesungguhnya manusia semacam ini akan hidupdi sisi Allah Swt. dan mendapatkan kenikmatan.
Semua manusia akan mengalami kematian dan akan dibangkitkan di alam akhirat. DalamQ.S. al Araf: 25 Allah Swt. berfirman.
"Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan".
(Q.S. al Araf{7}: 25).
Namun manusia kadang-kadang meragukan janji Allah. Hal ini sebagaimana tergambar dalam firman Allah Q.S. Maryam:: 66
> dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?"
(Q.S. Maryam{19}: 66).
Kemudian Allah Swt. menjawab dalam Q.S. al Hajj: 66
Dan dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.
(q.S. alHajj {22}: 66)
Keyakinan bahwa kematian adalah pintu gerbang menuju akhirat akan menimbulkan perilaku sebagai berikut
a. Manusia akan senantiasa berorientasi kehidupan akhirat, karena semua aktivitasnya akan diarahkan seba
gai bekal dikehidupan akhirat nanti.
b. Memiliki pengendalian diri dalam hidup, tidak tertipu dengan hiruk pikuk, dan keindahan dunia. berhati-ha
ti dalam berkata, berfikir, dan bertindak, menghindari perbuatan dosa sekecil apapun, karena yakin
dengan peringatan Allah Swt. dalam Q.S. al Insyrah: 7-8
maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya,
barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat ( balasan )nya.
(Q.S. al Insyrah {99}: 7-8).
c. Bersungguh-sungguh dalam beribadah.
d. Banyak beramal dan zariah untuk bekal akhirat.
e. Kehidupan hanya sementara dan akan diperhitungkan semua perbuatan yang kita lakukan setelah
kematian.
Kehidupan dunia adalah hanya permainan saja, seperti dalam Q.S. al Baqarah
Sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan yang melenakan. Keyakinan inilah yang kemudian menjadikan manusia tidak terlalu mencintai dunia secara berlebihan. Tidak mencintai dunia bukan berarti tidak berikhtiar mencari dan memiliki dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. untuk mereka yang mencintai kehidupan akhirat, dunia dijadikan jalan untuk beribadah dan mendapatkan kebahagian di akhirat.
Setiap amalan yang kita lakukan di dunia akan dicatat dengan teliti oleh malaikat. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Yasin: 12
Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).
(Q.S. Yasin {36}: 12).
Setiap amalan yang kita kerjakan akan dibalas seperti yang tercantum dalam Q.S. al Insyrah: 7-8, maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
Jika manusia dengan ilmunya sehingga ia meyakini kebenaran ayat-ayat Allah tentang kematian maka akan memiliki paradigma berbeda dan berpengaruh kepada sikap dan perbuatannya. Beberapa sikap dan perilaku jika memiliki paradigma di atas, dapat tergambar dari hal-hal berikut.
1) Menikmati kehidupan dan berbekal untuk kematian.
Kematian adalah akhir dari kehidupan dan setelah kematian akan ada kehidupan yang abadi di mana amal baik dan buruk kita akan diberikan ganjarannya. Perilaku yang munculmenikmati kesenangan dunia, tetapi tidak melupakan kehidupan akhirat. Hidupnya hati-hati, kemudian bertanya apakah perbuatan saya halal atau haram, karena merasa khawatir ibadahnya tertinggal. jika digambarkan seperti pelajar yang peduli akan ujian. Menghadapi ujian baginya sangat penting agar dapat menikmati ujian dan memperoleh hasil yang bagus.
2) Tidak takut kematian dan bersegera dalam beramal.
Kehidupan baginya adalah segala-galanya. Kehidupan harus diisi dengan amal baik. Dia yakin kematian dapat datrang kapan saja, dimana saja dan dengan cara apa saja. Sehingga merasa takut jika kematian datang, ketika sedang tidak siap dan belum berbekal untuk kematian. Perilaku yang muncul terus berbekal dan mengingat kematian. Dunia yang dimilikinya dijadikannya jalan agar dapat menikmati kehidupan di akhirat dengan baik. Jika digambarkan sama halnya seperti pelajar yang tahu akan ada ujian sehingga semangat belajar karena ingin lulus ujian dan menikmati kebahagiaan naik kelas.
3) Kematian bisa datang mendadak.
Tidak pernah ada yang tahu berapa lama kita di dunia, sebulan, seminggu atau sehari lagi atau beberapa jam lagi. Allah Swt. merahasiakan kematian agar kita selalu siap dengan bekal amal shaleh, kapanpun kita mati.
Kematian dirahasiakan waktunya agar manusia tidak main-main melakukan maksiat atau keburukan karena takut mati suul khatimah. (akhir yang buruk). Jika digambarkan sama halnya seperti pelajar yang diperintahkan oleh gurunya, ketika akan ada ujian mendadak yang waktunya dirahasiakan. Sang pelajar tersebut tentunya belajar sungguh-sungguh dan selalu siap kapan saja ujian dilakukan . Hatinya tenang dan nyaman karena sudah siap kapanpun ujian dilakukan.